Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran – Trivi Outbound Training

Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran

Sering kita mendengar ungkapan dari seorang guru mengenai banyaknya siswa yang `tidak berpikir’. Mereka pergi ke sekolah tetapi cara belajar mereka terbatas mendengarkan keterangan guru, kemudian tidak mencoba memahami materi yang diajarkan oleh guru. Saat ujian, para siswa mengungkapkan kembali materi yang telah mereka hafalkan itu. Cara belajar seperti ini, bukanlah suatu keberhasilan, dan merupakan cara belajar yang tidak kita inginkan. Mengenai nilai dan ujian, harus diakui bahwa siswa tersebut bisa menjawab pertanyaan.

Sebagian dari mereka mungkin mendapat nilai yang tinggi dan dianggap siswa yang sukses. Meskipun belum ada hasil penelitian yang kongkret, bahwa seandainya para siswa tersebut ditanya-setelah ujian selesai-apakah mereka masih ingat materi yang telah mereka pelajari, maka tidak heran kalau mereka sudah lupa apa yang telah mereka pelajari.

Proses pembelajaran sebagaimana digambarkan di atas banyak kita temukan di sekolah-sekolah. Proses pembelajaran baru dilaknasakan untuk mencapai tujuan pembelajaran pada tingkat rendah yakni mengetahui, memahami, dan menggunakan belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir kreatif yakni suatu yang paling esensi dari dimensi belajar. Sebagian besar guru belum merancang pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir (Kamdi, 2002)

Proses pembelajaran sebagian besar masih menjadikan anak tidak bisa, menjadi bisa. Kegiatan belajar berupa kegiatan menambah pengetahuan, kegiatan menghadiri, mendengar dan mencatat penjelasan guru, serta menjawab secara tertulis soal-soal yang diberikan saat berlangsungnya ujian. Pembelajaran baru diimplementasikan pada tataran proses menyampaikan, memberikan, mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa.

Dalam tataran ini siswa yang sedang belajar bersifat pasif, menerima apa saja yang diberikan guru, tanpa diberikan kesempatan untuk membangun sendiri pengetahuan yang dibutuhkan dan diminatinya. Siswa sebagai manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia karena diberi otak, dibelenggu oleh guru. Siswa yang jelas-jelas dikaruniai otak seharusnya diberdayagunakan, difasilitasi, dimotivasi, dan diberi kesempatan, untuk berpikir, bernalar, berkolaborasi, untuk mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan minat dan kebutuhannya serta diberi kebebasan untuk belajar. Pemahaman yang keliru bahkan telah menjadi “mitos” bahwa belajar adalah proses menerima, mengingat, mereproduksi kembali pengetahuan yang selama ini diyakini banyak tenaga keguruan perlu dirubah. Jalaluddin Rakhmad (2005) dalam buku Belajar Cerdas, menyatakan bahwa belajar itu harus berbasis otak. Dengan kata lain revolusi belajar dimulai dari otak. Otak adalah organ paling vital manusia yang selama ini kurang dipedulikan oleh guru dalam pembelajaran. Pakar komunikasi mengungkapkan kalau kita ingin cerdas maka kita harus terlebih dahulu menumbangkan mitos-mitos tentang kecerdasan

Sebenarnya para guru telah menyadari bahwa pembelajaran berpikir agar anak menjadi cerdas, kritis, dan kreatif serta mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-­hari adalah penting. Kesadaran ini juga telah mendasari pengembangan kurikulum kita yang kini lebih lebih mengedepankan pembelajaran konstekstual. Akan tetapi sebagian benar guru belum berbuat, belum merancang secara serius pembelajaran yang didasarkan pada premis proses belajar (Drost, 1998, Mangunwijaya, 1998)

Menurut pandangan Slavin (1997) dalam proses pembelajaran guru hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuannnya sendiri dalam dengan mendayagunakan otaknya untuk berpikir. Guru dapat membantu proses ini, dengan cara-cara membelajarkan, mendesain informasi menjadi lebih bermakna dan lebih relevan bagi kebutuhan siswa. Caranya dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide, dan dengan mengajak mereka agar menyadari dan secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Menurut Nur (1999), guru sebaiknya hanya memberi “tangga” yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.

B. Pembahasan

Definisi berpikir masih diperdebatkan dikalangan pakar pendidikan. Diantara mereka masih terdapat pandangan yang berbeda-beda. Walaupun tafsiran mereka itu berbeda-beda, namun umunya para tokoh pemikir bersetuju bahwa pemikiran dapat dikaitkan dengan proses untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Berpikir ialah proses menggunakan pikiran untuk mencari makna dan pemahaman terhadap sesuatu, menerokai pelbagai kemungkinan idea atau ciptaan dan membuat pertimbangan yang wajar, bagi membuat keputusan dan menyelesaikan masalah dan seterusnya membuat refleksi dan metakognisi terhadap proses yang dialami. Berpikir adalah kegiatan memfokuskan pada eksplorasi gagasan, memberikan berbagai kemungkinan-kemungkinan dan mencari jawaban-jawaban yang lebih benar.

Dalam konteks pembelajaran, pengembangan kemampuan berpikir ditujukan untuk beberapa hal, diantaranya adalah (1) mendapat latihan berfikir secara kritis dan kreatif untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah dengan bijak, misalnya luwes, reflektif, ingin tahu, mampu mengambil resiko, tidak putus asa, mau bekerjasama dan lain lain, (2) mengaplikasikan pengetahuan, pengalaman dan kemahiran berfikir secara lebih praktik baik di dalam atau di luar sekolah, (3) menghasilkan idea atau ciptaan yang kreatif dan inovatif, (4) mengatasi cara-cara berfikir yang terburu-buru, kabur dan sempit, (5) meningkatkan aspek kognitif dan afektif, dan seterusnya perkembangan intelek mereka, dan (6) bersikap terbuka dalam menerima dan memberi pendapat, membuat pertimbangan berdasarkan alasan dan bukti, serta berani memberi pandangan dan kritik

Pengembangan kemampuan berpikir mencakup 4 hal, yakni (1) kemampuan menganalisis, (2) membelajarkan siswa bagaimana memahami pernyataan, (3) mengikuti dan menciptakan argumen logis, (4) mengiliminir jalur yang salah dan fokus pada jalur yang benar (Harris, 1998). Dalam konteks itu berpikir dapat dibedakan dalam dua jenis yakni berpikir kritis dan berpikir kreatif. Bila dielaborasi perbedaan kedua jenis berpikr tersebut adalah sebagai berikut:

Perbandingan Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif.

No

Berpikir Kritis

Berpikir Kreatif

1

Analitis

Mencipta

2

Mengumpulkan

Meluaskan

3

Hirarkis

Bercabang

4

Peluang

Kemungkinan

5

Memutuskan

Menggunakan keputusan

6

Memusat

Menyebar

7

Obyektif

Subyektif

8

Menjawab

Sebuah jawaban

9

Otak kiri

Otak kanan

10

Kata-kata

Gambaran

11

Sejajar

Hubungan

12

Masuk Akal

Kekayaan, kebaruan

13

Ya, akan tetapi….

Ya, dan ………

Sumber : Prof. Dr. Mustaji, M.Pd
Dosen Program Studi TP FIP Universitas Negeri Surabaya

Tags : Vini Vidi Vici Adventure Camp / Trivi Camp adventure outbond, games outbond, list outbond, Vini Vidi Vici Adventure Camp operator outbond, outbond company, outbond management, outbond team, outbond tours, outbond traffic, provider outbond, paket outbound, Vini Vidi Vici Adventure Camp cara memilih operator outbond, provider outbond di Bandung, provider outbond di Puncak, Vini Vidi Vici Adventure Camp Kerjasama tim dalam bentuk permainan outbond, Vini Vidi Vici Adventure Camp tips dan trik memilih operator outbond, list outbond, operator outbond, outbond company, outbond management, outbond team, outbound tours, outbond traffic, provider outbond, paket outbond, Vini Vidi Vici Adventure Camp hal apa saja yang perlu diperhatikan didalam permainan dan simulasi dalan outbond, Vini Vidi Vici Adventure Camp / Trivi Camp adventure outbondalur pelatihan outbond, memilih operator outbond yang tepat di Jakarta, memilih operator outbond yang tepat di Bandung, Vini Vidi Vici Adventure Camp Temukan Out Bond, Outbond Training, Pengembangan SDM, Vini Vidi Vici Adventure Camp Program Outbond hanya di Out Bond / Outbond Training: Pengembangan SDM & Program Outbond, cara memilih operator outbond, provider outbond di Bandung, provider outbond di Puncak,  Kerjasama tim dalam bentuk permainan outbond, Vini Vidi Vici Adventure Camp tips dan trik memilih operator outbond, list outbond, operator outbond, outbond company, outbond management, outbond team, outbond tours, outbond traffic, provider outbond, paket outbond, hal apa saja yang perlu diperhatikan didalam permainan dan simulasi dalam outbond, Vini Vidi Vici Adventure Camp / Trivi Camp adventure outbondalur pelatihan outbond, memilih operator outbond yang tepat di Jakarta, memilih operator outbond yang tepat di Bandung, Temukan Out Bond, Outbond Training, Pengembangan SDM, Vini Vidi Vici Adventure Camp Program Outbond hanya di Out Bond / Outbond Training: Pengembangan SDM & Program Outbond, cara memilih operator outbond, provider outbond di Bandung, provider outbond di Puncak

Email | Cetak Halaman Ini